Kamis, 02 Februari 2012

The Moon That Embraces the Sun 5



Pagi hari yang cerah di paviliun Putri Mahkota. Dayang istana sibuk mengajar Yeon Woo bagaimana cara memberi hormat, ia harus membungkuk dengan sangat halus dan perlahan di depan lilin. Tapi Yeon Woo harus menjaga agar nyala lilin tidak bergoyang.

Yeon Woo berusaha keras, tapi tetap saja jubah dan wignya yang berat membuat Yeon Woo kesulitan.

PM Hwon jalan di depan paviliun Putri Mahkota, ia tersenyum, lalu bicara sendiri, apa kau tidur nyenyak? Hari ini kau harus mulai latihan..tiba2 terdengar pecahan piring. Hwon kaget, lalu tersenyum geli.

Di dalam, Yeon Woo belajar jalan dengan seimbang tanpa memecahkan piring di lengannya. Tapi Bin Gung Mama kita sudah memecahkan beberapa piring. Dayang istana menghela nafas dan Yeon Woo tersenyum.

PM Hwon mengirimkan makanan kecil dan surat untuk Yeon Woo. Membuat Yeon Woo gembira sekali.

"Meskipun aku tidak bisa segera pergi menemuimu karena peraturan, aku akan menghargainya dan menunggu hari saat kau menemuiku sebagai Putri Mahkotaku."
Yeon Woo tersenyum membaca surat Hwon.

Ibu Suri mengenakan busana hitam2 dan menemui Jang Nok Young di Seongsucheong. Ibu Suri tanya semua persiapannya dan seorang tamu yang dibawa untuk saksi prosesi.

Ibu Suri memberikan barang2 Yeon Woo kepada Nok Young. Ada Sheng Chen Ba Zi (8 karakter lahir) dan baju yang ia kenakan selama di istana.

Nok Young menerimanya dan memulai prosesi. Ia membakar data2 Yeon Woo lalu melempar-lempar bola api itu sambil membaca mantra2. Tiba2 asap hitam keluar dari ukupan di depan Nok Young. Asap itu naik memenuhi ruangan dan menghantam tubuh Nok Young.

Yeon Woo membaca lagi surat PM Hwon, ia tersenyum bahagia. Lalu dengan hati2 melipat surat itu dan meletakkannya dekat bantal. Yeon Woo meniup lilin lalu tidur.

Nok Young mengarahkan asap itu keluar dari Seongsucheong. Asap itu naik menembus atap lalu menuju paviliun Putri Mahkota. Asap itu masuk melewati sela-sela pintu dan memenuhi kamar tidur Yeon Woo.

Yeon Woo terbangun dan merasa tidak enak, asap itu mencekik leher Yeon Woo. Yeon Woo susah payah mencoba melepaskan cekikan tanpa wujud itu. Ia berusaha keluar dan menggapai pintu.

Tapi usahanya gagal, Yeon Woo pingsan. Asap hitam itu kemudian terbang meninggalkan Yeon Woo yang pingsan.
(Ini seperti teluh, pernah merasa tercekik saat tidur? mungkin ada yang mengirim teluh agar seseorang jatuh sakit.)

Ibu Suri tanya apa sudah selesai. Nok Young mengiyakan, tapi ia tidak punya kuasa untuk membunuh Yeon Woo. Ibu Suri terkejut, jadi kau membiarkan sumber masalahnya?
Nok Young minta Ibu Suri tidak cemas, karena Yeon woo akan sakit parah lalu meninggal dengan sendirinya.

Ibu Suri setuju, itu bagus..kematian mendadak akan menimbulkan kecurigaan orang. Ini jauh lebih baik. Lagipula..Yang Mulia tidak bisa membiarkan orang sakit di dalam istana.

Ibu Suri memberi peringatan, jika Yeon Woo tidak meninggal dalam waktu yang ditentukan, Nok Young harus segera membereskannya. Ibu Suri meninggalkan tempat itu dan menemukan P. Min Hwa berdiri di depannya, ketakutan.

Ibu Suri tenang saja, Oh..astaga, apa kau ketakutan? Lalu tersenyum, semuanya sudah berakhir sekarang, kau bisa tenang. Jangan cemas. Sebentar lagi, Putri, kau akan mendapat apa yang kau inginkan.

Min Hwa gemetaran ketakutan. Ibu Suri menimpakan semua rasa bersalah pada Min Hwa. Seolah Ibu Suri melakukan ini demi Min Hwa.

Paginya, paviliun Yeon Woo gempar. Dayang teriak2 karena menemukan Yeon woo tidak sadar. Bin Gung Mama! apa anda bisa mendengar saya? Cepat panggil tabib istana!

Raja langsung mengadakan pertemuan darurat. Para menteri tentu saja mendesak Raja mengusir Putri Mahkota keluar istana. Sudah beberapa hari sejak gejala penyakit itu dan tetap belum ada perkembangan.
Raja berkata kalau tidak ada penyakit yang bisa sembuh satu atau dua hari, Yeon Woo belum menjalani upacara pernikahan, tapi ia tetap Putri Mahkota. Raja ingin Yeon Woo tetap di istana dan mendapat perawatan tabib istana.

Para Menteri tidak setuju, mereka takut penyakit Yeon woo menyebar dan menular pada yang lain.

Yoon Dae Hyung berkata, kelak Putri Mahkota akan melahirkan keturunan Raja, tidak baik jika mereka memiliki penyakit keturunan.

Menteri Yoon ingin Yeon woo diturunkan dari kedudukan sebagai Putri Mahkota, karena sudah menyembunyikan penyakit dan mereka harus memilih calon Putri Mahkota lain.
Yoon juga minta Menteri Heo dan Guru Heo Yeom yang menyembunyikan penyakitnya harus bertanggung jawab.

Tabib istana mendesak Dayang untuk segera menyiapkan Yeon Woo keluar istana. Dayang istana protes, karena belum ada pengumuman. Tapi Tabib istana tidak bisa membiarkan orang sakit di dalam istana.

Dayang istana akhirnya minta diberi waktu untuk membuat persiapan. Tabib istana juga meminta semua barang yang pernah dipakai Yeon Woo dalam istana ini dibakar.

PM Hwon jalan dengan gontai ke paviliun Putri Mahkota. Para pengawal menghadangnya. Hwon marah, apa kalian tidak mau minggir?!! Kasim Hyung Sun hanya menangis sedih.
PM Hwon : Dia Putri Mahkota-ku, siapa yang berani mengirimnya pulang tanpa ijinku? Minggir!

Pengawal istana tidak beranjak, karena ini membahayakan PM jika mendekat, mereka takut PM tertular penyakit Yeon woo.

Yeon woo keluar dipapah Perawat istana dan para dayang. Wajahnya pucat pasi. PM Hwon menangis melihatnya, Yeon Woo-ya..Yeon woo..Yeon Woo dia Putri Mahkotaku, minggir! Yeon Woo-ya! Minggir!
Yeon Woo menahan tangis, Chon Na..

Yeon Woo segera meninggalkan paviliunnya dan PM Hwon teriak2 histeris sambil menangis, Yeon Woo-ya

Yeon Woo berpaling sekali lagi melihat Hwon lalu jalan pergi.
Ibu Suri melihat semua dengan dingin.

Menteri Yoon menghadap Ibu Suri dan minta Ibu Suri memperhatikan PM Hwon. Karena Putra Mahkota tidak akan diam begitu saja.
Ibu Suri minta Yoon tenang, PM Hwon belum tahu masalah politik.

Yoon tidak yakin, ia tahu PM Hwon yang menggerakkan mahasiswa SKK saat itu. Karena mereka, Yang Mulia juga menjadi kuat. Yoon berkata kondisinya sama dengan Sigangwon, semua guru yang diusir dari Sigangwon, berasal dari pihak kita. Satu2nya yang bertahan di Sigangwon, adalah putra Heo Young Jae.

Yoon : Bukan karena Putra Mahkota tidak mengerti politik, tapi sebelum Joseon menjadi miliknya, ia pura2 polos sebagai topeng.

Ibu Suri memanggil Hwon dan minta Hwon melupakan Yeon Woo. Hwon tidak bisa, ia Putri Mahkota cucu anda, Yang Mulia.

Ibu Suri memaksanya, dan jangan melawan kehendak langit. Hwon tidak mengerti. Ibu suri menyalahkan Hwon, setelah menggerakkan para pelajar SKK..apa yang kau dapatkan? Kau tidak mendapatkan apapun, ya kan?

Ibu Suri : Jika Yang Mulia dan PM tidak menginginkan Yeon Woo, ia pasti sudah hidup bahagia. Jika ia tidak dipilih sebagai Putri Mahkota, ia tidak akan mengalami kesulitan. Jadi kau lihat, dengan tindakanmu, siapa yang menerima kebahagiaan? Jika anak itu menjadi seperti ini, ini karena kau. Putra Mahkota.
Jika sayap kakaknya dipatahkan, itu juga karena kau. Putra Mahkota. Jika Yang Mulia tercemar reputasinya, itu juga karena kau Putra Mahkota. Jika keluarga Penasehat Heo dihukum, itu semua karena kau Putra Mahkota. Itulah mengapa mereka yang sudah mengerti agar tidak melihat orang lain disakiti atau menderita, mereka akan menuruti perintah dan patuh.

PM Hwon marah, ia mengepalkan tangannya menahan emosi, tapi ia diam saja.

Tabib yang memeriksa Yeon Woo juga heran, ini aneh sekali. Dia sudah praktek selama 30 th tapi belum pernah melihat penyakit seperti ini. Semua tanda vitalnya normal, tapi kondisi tubuhnya semakin memburuk. Tabib akan meresepkan obat, tapi ia juga minta mereka tidak yakin. Ny. Heo marah2 dan Yeom minta ibunya tenang.

Ny. Heo menangis dan memohon tabib menyembuhkan putrinya, ia bersedia menukarkan nyawanya jika perlu. Ny. Heo pingsan karena sedih. Yeom membantu ibunya kembali ke kamar.

Tuan Heo jalan keluar untuk menenangkan diri. Jang Nok Young datang menemuinya. Heo heran, siapa anda?
Nok Young mengenalkan diri sebagai Guk Mu dari Seongsucheong, Jang Nok Young.

Tuan Heo terkejut, kenapa Peramal Istana bisa pergi ke rumahnya. Nok Young berkata ia dituntun roh dan datang tanpa sepengetahuan orang lain, apa saya boleh melihat putri anda?
Nok young masuk ke kamar Yeon Woo dan berkata kalau Yeon Woo kena penyakit magic.

Menteri Yoon benar2 gembira, ia minum2 bersama menteri2 lain. Siapa yang mengira kalau penyakit itu akan datang sekarang? Langit benar2 membantu kita.

Mereka ingin membuang Menteri Heo, atau meracuninya. Tapi Yoon tidak setuju, tenang saja, apa artinya jika kau punya sayap tapi tidak bisa terbang? Itu adalah penyiksaan paling berat.
Para menteri cemas bagaimana kalau Yeon Woo sehat lagi. Menteri Yoon memastikan kalau Yeon Woo tidak akan bisa kembali ke istana hidup2.

Bo Kyung yang ada di luar mendengar itu dan ia syok. Bo Kyung menemui ayahnya dan tanya apa ayah ingin membunuh Yeon Woo.

Yoon : Apa kau takut pada ayahmu? Apa kau mengasihani anak itu?

Yoon ingin Bo Kyung mengerti, ia tidak ingin mendengar sebutan penghinaan lagi. Banyak orang yang berkata kalau Yoon adalah anjing Ibu Suri, karena Ibu Suri-lah, ia mendapat posisi seperti ini.

Aku tidak akan pernah lupa penghinaan dan kemarahan itu, Bukankah kau ingin tinggal di istana? Bukankah kau berkata ingin memenangkan hati Putra Mahkota, ya kan? Maka mulai sekarang, kau tidak boleh punya perasaan kasihan atau bersalah. Ingat kemarahan yang kau rasakan saat sesuatu dicuri darimu. Ingat perasaan bahagia yang kau rasakan kalau mendapatkan apa yang kau inginkan. Jika kau tidak mengerti, maka berhentilah menginginkan posisi itu sekarang.

Tuan Heo duduk menunggui Yeon Woo dan ingat kata2 Nok Young.
Nok Young menjelaskan kalau ini sihir. Jika anda tidak bisa menerimanya maka penderitaan nona tidak akan berhenti.

Tuan Heo yang terpelajar tidak percaya tentang ini. Tidak ada satupun keluarganya yang berbakat seperti itu. (Maksudnya, orang sakit karena dihinggapi roh dan akan punya kekuatan magic)

Nok Young juga tidak tahu kenapa langit memilih Yeon Woo, tapi langit marah karena Yeon Woo menolaknya. Itulah mengapa ia sakit. Jadi, apa Tuan akan mengijinkannya menerima kekuatan itu?

Tuan Heo ingin tahu apa ada caranya mengusir kekuatan mistik itu?
Nok Young berkata ada satu cara.
Tuan Heo : Apa itu?

Nok Young : Nona harus mengorbankan hidupnya.

Para menteri berdiri di depan Daejeon dan mendesak Raja mengganti Putri Mahkota.
Yang Mulia, tolong pilih Putri Mahkota yang baru! Negeri ini perlu dipertahankan, Yang Mulia.

PM Hwon murka, Yoon Dae Hyung!! Kasim Hyung Sun berusaha meredakan kemarahan Hwon. Hwon marah2, aku akan ke Daejeon, untuk membuat Yang Mulia menarik perintahnya.
Hyung Sun mencegahnya, konsekuensinya akan berat sekali Yang Mulia.

PM Hwon kesal, apa ada yang bukan anak buah Yoon Dae Hyun di istana ini?
Hyung Sun : Yang Mulia..tolong tenanglah.

PM Hwon putus asa, Putri Mahkota...dikirim pulang ke rumahnya. Bahkan Guru Heo dilarang masuk istana, hanya karena dia anggota keluarga dari orang sakit. Dan disaat seperti ini..bahkan kak Yang Myung tidak ada di sini.

Di istana ini, aku tidak punya siapa-siapa lagi di sisiku..
Tiba-tiba PM Hwon berhenti bicara..ia ingat satu orang.

Kim Chae Woon latihan pedang dan kemampuannya benar2 luar biasa. Penjaga lain merasa Chae Woon bukan manusia, dia dewa pedang..dia dewa pedang. Wajah dan keahlian pedangnya tidak seimbang. Chae Woon terlalu tampan untuk jadi pengawal.
Mereka merasa seharusnya Woon bisa mencapai karir tinggi, kalau saja ia bukan dilahirkan dari selir Gubernur.

PM Hwon datang dan semua penjaga terkejut, Yang Mulia, kenapa anda kesini?

PM Hwon berkata merasa kesal hari ini, aku tiba2 ingat saat main bola itu dan jadi lebih kesal. Hwon menunjuk seorang penjaga, kau! pemain dengan nilai tertinggi waktu itu adalah kau, ya kan?
Penjaga itu (sepertinya anak ini yang sudah menjegal Hwon) berkata bukan dia. Lalu semua menoleh ke arah Chae Woon dan sepakat berkata : Kim Chae Woon.

Hwon memerintah Kim Chae Woon dan penjaga itu untuk ikut dengannya. Penjaga lainnya merasa resah, apa mereka akan dipecat gara2 sepakbola itu? pendendam sekali..ini kan sudah lama berlalu.

Pfft...tampang Hyung Sun sepertinya iri ama otot si penjaga haha..
Penjaga itu meringkuk kedinginan tanpa baju di kediaman Putra Mahkota (untung Ratu Han atau Raja tidak mendadak datang haha.. kasihan juga, diluar cuacanya dingin sekali, lihat aja BTS-nya, it's freaking cold man..)

Kasim Hyung Sun masuk dengan baju kasim, aku tidak yakin apa ini cocok untukmu, tapi pakai saja dulu. Hyung Sun mengancam, kalau sampai ini diketahui orang lain maka nyawa penjaga itu akan terancam. Penjaga itu mengerti.

PM Hwon menyelinap ke kamar Yeon Woo dengan menyamar menjadi penjaga istana. Yeon Woo..Yeon woo..
Yeon Woo membuka matanya, dan mengira kalau itu mimpi. Ia diam saja.

PM Hwon : Yeon Woo..apa kau mengenaliku? tidak apa kalau kau tidak kenal, asalkan aku bisa mengenalimu, itu bagus.
Yeon Woo : Apa ini nyata? Apa ini bukan mimpi? Apa ini benar2 anda Chon Na..

Hwon berkata kalau ini nyata dan ia datang menemui Yeon Woo. apa kau bodoh? Yeon Woo tersenyum dan juga menangis. Hwon mengeluarkan sebuah binyeo (tusuk konde) dan memberikan ke Yeon Woo, bentuknya unik, burung phoenix dengan bulan dikepalanya memeluk matahari.

Hwon : Ini bulan yang memeluk matahari. Jika Raja adalah matahari, maka Ratu adalah bulan. Tusuk konde phoenix. Putri Mahkota dalam hatiku hanyalah kau, Yeon Woo..jadi cepatlah sembuh dan kembali ke sisiku.
Yeon Woo : Chon Na..
Hwon : Katakan.

Yeon Woo minta maaf, karena saat pertama bertemu PM Hwon, ia salah sangka dan mengira Hwon pencuri. Saya tidak sopan dan kasar pada anda. Saya minta maaf.

Hwon sama sekali tidak menyalahkan Yeon Woo. Yeon woo berkata sangat gembira bertemu Hwon dan tersenyum. Hwon ingin menangis dan berkata kalau mulai sekarang Yeon Woo akan menjadi sangat bahagia.

Yeom ada di luar bersama Woon, ia heran kenapa Woon mau mengawal PM Hwon kesini. Melakukan hal berbahaya seperti ini, rasanya bukan kau. Yeom cemas, ia takut PM akan mendapatkan masalah.
Woon : Bagaimana mungkin satu orang bisa membuat Yang Mulia dalam bahaya? Merindukan seseorang sampai jatuh sakit itu akan menciptakan bahaya yang lebih besar.

Yeom : Apa kau tahu, kalau PM ingin kau menjadi pengawal pribadinya. Yeon Woo kita mungkin yang melakukannya.

Yeom memergoki Seol yang mengintip mereka. Yeom berkata kalau Seol menyukai Woon. Tapi Woon merasa tidak seperti itu. Yeom yakin, karena Seol suka latihan pedang juga dan aku tahu kau mengajarinya.

PM Hwon jalan pulang dikawal Woon. Namamu, Kim Chae Woon ya kan? Woon mengiyakan. PM Hwon ingin juga memanggilnya Woon. Seperti kakaknya dan juga gurunya.
Woon : Itu suatu kehormatan, terima kasih Yang Mulia.

PM Hwon berterima kasih pada Woon karena sudah diantar ke tempat Putri Mahkota dilahirkan dan dibesarkan selama ini. Aku selalu ingin melihatnya.

PM Hwon menangis, Putri Mahkota menderita tapi aku tidak bisa melakukan apapun.
Woon : Chon Na.
PM Hwon : Aku Putra Mahkota negeri ini..karena aku Putra Mahkota negeri ini..aku sangat tidak berguna.

P. Yang Myung bertualang sebagai pemburu, ia menyebut dirinya sendiri sebagai Sunjeong Macho. Sampai anak2 bingung. Apa itu Macho?
P. Yang Myung : Kudanya kuda, lambang pria yang penuh dengan keliaran seperti aku.
Anak2 : Lalu apa sunjeong macho?

P. Yang Myung : Bisa dikatakan seorang pria yang liar tapi polos. Ah ..ini membuatku malu. Sudah aku akhiri sampai disini.

P. Yang Myung juga ikut pertarungan tinju jalanan. Ia berkata namanya Sunjeong Macho, tapi dikenalkan sebagai Sunjeong Chima (Chima=rok).
Yang Myung protes, bukan aku Sunjeong Macho. Lucunya lagi, sebelum bertarung ada iklan dulu haha..

P. Yang Myung hampir menang, tapi ia teringat Raja dan juga Yeon Woo, akhirnya ia justru dipukuli.

P. Yang Myung makan di kedai dan mendengar pembicaraan orang. Mereka mengeluh tentang kenaikan pajak yang akan masuk ke klan Yoon lagi. Pasti lebih berat jika Yoon yang jadi Putri Mahkota. Putri Mahkota yang dipaksa keluar karena penyakit sudah tidak sadar selama 2 hari.
Dia hanya menunggu kematiannya saja.

P. Yang Myung terkejut. Dan menyerang pria itu, Apa maksudmu, Putri Mahkota diganti? P. Yang Myung segera memacu kuda kembali ke ibukota.
Yang Myung : Bertahanlah..Yeon Woo..bertahanlah..Yeon Woo.

Tuan Heo meminta Heo Yeom pergi ke rumah pamannya dulu sementara ini agar tidak tertular penyakit. Kau putra tertua keluarga ini, dan juga tangan kanan Putra Mahkota.

Yeom mencemaskan Yeon Woo..tapi ayahnya mendesak. Yeom ingin tahu penyakit Yeon Woo, dan akan mencari tahu. Tuan Heo membentaknya, apa kau lupa kalau kau adalah Guru Yang Mulia?

Yeom akhirnya mematuhinya. Tapi ia sempat pesan pada Seol, karena Yeon Woo tidur, aku tidak ingin membangunkannya, jika Yeon Woo ingin bertemu denganku, tulislah surat. Lalu ia sadar, Seol tidak bisa menulis. Kalau begitu kirim orang untuk memberitahuku.

Seol menangis, agassi sudah mengajari saya. Dia berkata, hanya jika saya mengetahui kata-kata, maka saya bisa membaca seluruh dunia. Setiap hari ia mengajari saya sedikit demi sedikit.
Yeom lega karena ada Seol di samping Yeon Woo. Jaga baik-baik Yeon Woo. Aku mengandalkanmu Seol. Seol mengangguk dan menangis. Yeom menepuk kepalanya. Lalu pergi.

Tuan Heo memanggil Seol dan akan mengirim Seol pada pemilik yang baru. Seol terkejut dan menangis, Tuan Besar, apa saya telah melakukan kesalahan?
Tuan Heo berkata bukan seperti itu.

Seol memohon, saya akan berubah. Tolong jangan jual saya kepada orang lain. Saya tidak akan makan banyak. Biarkan saya tetap disisi Agassi.
Tuan Heo menghela nafas, Seol.. Seol masih memohon, saya janji pada Tuan Muda kalau saya akan menjaga agassi dengan baik, jadi jangan..

Tuan Heo janji, setelah Yeon Woo sembuh, ia akan memanggil Seol kembali. Jadi sekarang..kau harus mendengarkan aku.

Tapi kondisi Yeon Woo semakin memburuk. Ny. Heo panik saat Yeon Woo batuk seperti tercekik. Ayahnya datang memeluk Yeon woo dan Yeon Woo batuk darah.

Tuan Heo ingat kata2 Jang Nok Young, Kalau dia masih hidup, tidak ada cara untuk mengusir roh itu.
Tuan Heo syok, apa kau minta aku membunuh putriku sendiri?
Nok Young : Hanya ada satu cara ini, mengusir roh itu setelah dia mati.

Tuan Heo menemui Nok Young dan Nok Young memberinya obat untuk meringankan penderitaan Yeon Woo. Tuan Heo tanya, jika dia minum obat ini, apa akan meringankan penderitaan-nya?
Nok Young membenarkan.
Tuan Heo : Apa ini benar2 akan mengusir roh itu dan membiarkannya pergi dengan tenang?
Nok Young : Saya berjanji.

Nok Young jalan pergi dan berkata dalam hati, Tuan Heo, saya benar2 minta maaf. Saya akan menggunakan hidup saya untuk membayar dosa ini.

Tuan Heo memasak obat itu sendiri dan istrinya datang, Suamiku, kenapa tidak memanggilku? Ny. Heo ingin memasak obat itu, tapi Tuan Heo memintanya istirahat saja, serahkan padaku.

Tuan Heo : Aku juga ingin melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan seorang ayah. Paling tidak, menyiapkan obat ini memberiku perasaan aku masih bisa menolongnya.

Yeon Woo berbaring sendirian dan ingat kata2 Nok Young, Nona..penyakit anda mematikan.

Yeon Woo bangun dan susah payah berusaha duduk, ia menulis surat untuk Hwon : Yang Mulia Putra Mahkota, saya menggunakan kekuatan terakhir saya menulis surat ini untuk anda.

PM Hwon terbangun di kamarnya dan melihat Yeon Woo duduk di ambang jendela, di sebelah tanaman selada itu. Yeon Woo..apa kau sudah sembuh?
Yeon Woo : Yang Mulia, apa anda tahu mengapa saya mengirim pot bunga ini pada anda?

PM Hwon : Kau sudah mengatakannya padaku.
Yeon Woo : Sebenarnya..ada arti tersembunyinya juga.
PM Hwon : Arti tersembunyi?
Yeon Woo : Saya berharap Yang Mulia akan penasaran dengan tanaman yang akan tumbuh dan dengan begitu anda akan menulis surat pada saya.

PM Hwon : Itu artinya, kau selalu menungguku menulis surat padamu?
kau ini..seharusnya kau tinggal mengatakannya saja. Aku tidak tahu yang terjadi. Aku selalu merasa kalau kau menghindariku..

Yeon Woo : Yang Mulia, saya berharap anda tetap sehat dan bahagia.
Yeon Woo membungkuk pada Hwon. PM Hwon terbangun dan duduk, ternyata kamarnya kosong. Itu cuma mimpi.

Yeon Woo selesai menulis surat dan menyimpannya di sebuah kotak, lalu merangkak kembali ke tempat tidurnya.

Tuan Heo masuk dan memanggilnya, Yeon woo..bangunlah, ini waktunya minum obatmu. Tuan Heo berkata obatnya masih terlalu panas dan mengipasnya dengan tangan. Tuan Heo menangis.

Tuan Heo minta maaf, Yeon woo..maafkan ayah. Kalau ayah tahu, aku seharusnya mengijinkanmu belajar kapanpun kau mau. Aku seharusnya membiarkanmu melakukan apapun yang kau suka. Aku selalu berpikir kalau kita masih punya banyak waktu.
Aku sangat bodoh selama ini.

Yeon Woo sepertinya mengerti untuk apa obat itu, ia berkata ingin segera minum obatnya. Setelah aku minum obat ini, aku tidak akan jatuh sakit lagi.
Tuan Heo gemetaran, ia membantu Yeon Woo bersandar di lengannya dan membantunya minum obat. Apa obatnya pahit?
Yeon Woo : Sangat pahit.

Tuan Heo menangis dan memeluk Yeon Woo, Yeon Woo sayang..ayah akan memelukmu sampai kau tertidur. Yeon Woo berkata ia senang karena pelukan Ayah mengingatkan-nya pada kakak.
Tuan Heo melihat binyeo phoenix dari Hwon, Yeon Woo berkata ingin tidur dengan binyeo itu di tangannya. Biarkan aku menyimpannya.

Yeon Woo : Ayah..Ayah, mataku terasa berat, aku ingin tidur sekarang.
Yeon Woo menutup matanya di pelukan ayahnya. Tuan Heo menangis, Yeon woo maafkan ayah..ayah akan segera bersamamu.

Ny. Heo lari masuk ke dalam dan merangkak ke arah Yeon Woo, membelai wajahnya, memeluk Yeon Woo dan menangis. Yeon Woo..Yeon woo..

Kasim Hyung sun lapor : Dia pergi seperti tertidur di pelukan Kepala Sarjana. Hari ini, keluarganya akan mengadakan pemakaman sederhana.

PM Hwon syok, ia jalan keluar kamar dengan gemetaran. Ia tersandung, lalu lari.
Hyung Sun panik, Chon Na! Chon Na!

PM Hwon ditahan oleh para penjaga, Anda tidak boleh pergi, Yang Mulia. Ada perintah dari istana Ratu kalau anda tidak boleh meninggalkan Istana anda hari ini.

PM Hwon marah, lepaskan! lepaskan aku! Ada yang harus kukatakan pada Putri Mahkota. Masih ada yang harus kukatakan pada Putri Mahkota! Lepaskan!

Hwon menangis putus asa: Yeon Woo..Yeon Woo! Lepaskan aku! Masih ada yang harus kukatakan padanya..Yeon Woo! Yeon Woo!






해를 품은 달 여진구 김유정_훤연우_ 야상곡








 

Sinopsis Drama dan Film Korea









Tidak ada komentar:

Posting Komentar