Senin, 18 Juli 2011

Sinopsis Dream High Episode 7

 

“Masuklah duluan.” kata Jin Kuk pada Hye Mi seraya menghampiri ayahnya.
Ayah Jin Kuk menampar wajah putranya itu.
“Apa kau harus menamparku di depan temanku?” tanya Jin Kuk.
Moo Jin menoleh sekilas ke arah Hye Mi. “Ikuti aku.” katanya Jin Kuk.
Jin Kuk maju ingin mengikuti ayahnya, namun mendadak Hye Mi menarik lengannya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Hye Mi cemas.
Jin Kuk tersenyum untuk menenangkan Hye Mi. “Aku mungkin akan pulang terlambat.” katanya.
“Siapa pria itu?” tanya Hye Mi.
“Dia ayahku.” jawab Jin Kuk.
Hye Mi melepas pegangan tangannya di lengan Jin Kuk dan memandang kepergian Jin Kuk dengan khawatir.
Sesampainya di ruang kerja, Moo Jin langsung menampar Jin Kuk.
“Apa kau ingin menghancurkan dan mempermalukan ayahmu sendiri?!” seru Moo Jin marah. “Jika kau masih keras kepala, kau harus bersiap sekolah di luar negeri! Kau harus pergi!”
“Tidak.” tolak Jin Kuk. “Aku sudah bilang, aku ingin tinggal disini.”
“Aku tidak memintamu.” kata Moo Jin memaksa. “Aku memerintahkanmu! Aku tidak akan membiarkan kau membuat masalah lagi!”
“Membuat masalah?” tanya Jin Kuk sinis. “Kau sendirilah yang membuat masalah. Kau berjuang demi pemilihan tapi tidak bisa menjaga putramu sendiri.”
Moo Jin memandang Jin Kuk dengan marah. “Apa katamu?!”
“Kau mencampakkan aku sesukamu, lalu kau kembali.” ujar Jin Kuk tanpa rasa takut. “Kini kau mau mencampakkanku lagi? Kaulah yang menyebabkan aku menjadi orang yang menyedihkan, Ayah!”
Moo Jin mengangkat tangannya dan hendak memukul Jin Kuk lagi. Tapi entah kenapa Moo Jin mengurungkan niatnya dan malah menyentuh pundak Jin Kuk.
“Inilah satu-satunya cara agar aku tidak kehilangan kau lagi.” ujar Moo Jin, menunduk sedih. “Demi posisi ini, kau tahu seberapa besar aku berkorban? Bahkan ibumu… aku lah yang mengirimnya pergi. Karena itulah aku melakukan semua ini. Lalu kau ingin aku melepas semuanya? Kau ingin aku melepas perusahaan dan pemilihan ini hanya untuk menjalani hidupku sebagai ayahmu?”
Jin Kuk meneteskan air matanya.
Moo Jin tahu bahwa putranya itu sudah luluh. “Terima kasih untuk pengertianmu.” katanya. “Siapkan segalanya untuk bulan depan. Aku akan mengurus semua keperluan sekolahmu di luar negeri.”
Jin Kuk duduk seorang diri, ditengah kegelapan di ruang latihan.
“Sebagian orang hidup karena ingin mewujudkan mimpinya.” Jin Kuk menyanyi pelan. “Sebagian orang hidup untuk merenggut mimpi orang lain. Sebagian orang berkata mereka tidak memiliki mimpi.”
Mendadak lampu menyala dan Baek Hee masuk ke dalam ruangan.
“Kau tidak diperolehkan menggunakan ruang latihan pada waktu ini.” ujar Baek Hee.
“Aku tahu.” jawab Jin Kuk. “Aku baru saja akan pergi.”
“Aku tidak akan melaporkanmu.” ujar Baek Hee, menghalangi. “Lagu yang baru saja kau nyanyikan adalah lagu yang ingin kunyanyikan saat pentas.”
“Kau menyukai lagu itu?” tanya Jin Kuk.
“Ketimbang memikirkan lagu yang kusukai, aku lebih memikirkan reaksi penonton.” jawab Baek Hee. “Tidak masalah bagaimana pentasnya nanti. Tidak akan ada orang yang datang dan menontonku.”
“Orang tuamu tidak datang?”
Baek Hee mengangguk. “Ibuku lebih mementingkan tokonya dibandingkan aku.” katanya sedih. “Apapun yang kuinginkan di masa depan, dia tidak peduli.”
Jin Kuk kelihatan iba.
“Pasti sangat menyenangkan jika aku bisa menyanyikan lagu itu.” ujar Baek Hee, tersenyum pahit. “Liriknya menggambarkan perasaanku.”
“Sama denganku.” kata Jin Kuk, tersenyum. “Aku pergi dulu.”
Jason sedang berlatih menari seorang diri di studio.
Ketika ia sedang asyik menari, musik tiba-tiba mati. Rupanya Kyung Jin yang datang.
“Kenapa kau tidak menggunakan waktu ini dengan berlatih bersama Ri Ah?” tanya Kyung Jin.
“Guru, bisakah aku pentas seorang diri?” pinta Jason. “Atau paling tidak, izinkan aku mengganti pasanganku.”
“Kenapa?” tanya Kyung Jin. “Kurasa kalian berdua tampak serasi jika bersama.”
“Aku merasa itu tidak menarik bagiku.” kata Jason. “Kau mengerti, bukan? Jika aku tidak merasa tertarik, pertunjukan tidak akan menarik.”
“Kau pikir panggung pertunjukan hanya main-main?” tanya Kyung Jin, mulai marah. Disaat yang sama, Ri Ah tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka.
“Jika begitu, lebih baik kau mundur saja.” ujar Kyung Jin tajam. “Rupanya kau tidak sepandai yang kubayangkan. Seharusnya kau berterima kasih pada Ri Ah. Kau tidak bisa berdiri di panggung sendirian. Kau punya bakat, tapi kau tidak akan mampu menghibur penonton. Yang dibutuhkan orang sepertimu adalah seseorang yang bisa menghibur penonton seperti Ri Ah. Jadi, berterima kasih padanya dan ikuti Ri Ah.”
Jason terlihat kesal. Ia menunduk memberi hormat, kemudian beranjak pergi.
“Jika kau ingin mengikuti keinginanmu untuk menyanyi, pergilah ke karaoke.” kata Kyung Jin tajam.
Jason berjalan pergi dengan marah. Ia menuju loker. Saat itu Pil Sook sedang berada disana.
Pil Sook langsung berjalan menjauh begitu Jason datang.
Jason berdiri di depan loker dan meninju loker tersebut.
Pil Sook terlonjak kaget.
Setelah puas meninju loker, Jason berbalik dan melihat Pil Sook.
“Hei, Nona Sushi.” panggil Jason pada Pil Sook. “Apa sekarang kau sedang menganggur?”
Jason mengajak Pil Sook ke tempat karaoke. Disana, Jason menyanyi (hampir seperti berteriak-teriak).
Pil Sook dan Jason bernyanyi dan menari bersama. Seperti orang stress.
Sam Dong dan Hye Mi mencari-cari Jin Kuk.
Saat itu Jin Kuk sedang dilema dan depresi memikirkan ayahnya.
“Jadi dia disini.” gumam Sam Dong pada Hye Mi, melihat Jin Kuk di kejauhan.
Sebelum mereka berdua sempat mendekat, Baek Hee sudah mendekati Jin Kuk terlebih dulu.
“Permisi.” kata Baek Hee takut-takut. “Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Jin Kuk menoleh. “Padaku?”
“Maukah kau datang ke pentasku?” pinta Baek Hee kaku.
Hye Mi terlihat terkejut mendengar permintaan Baek Hee.
“Kenapa harus aku?” tanya Jin Kuk.
“Semua orang tua datang, kecuali orang tuaku.” ujar Baek Hee. “Jika aku menjadi satu-satunya orang yang tidak mendapat bunga, aku akan sangat sedih.”
Jin Kuk terdiam, berpikir, kemudian menyetujui permintaan Baek Hee. “Ya.” katanya,
Sam Dong langsung berteriak. Baek Hee buru-buru kabur.
“Apa kau lupa?” tanya Sam Dong. “Kita punya pentas kita sendiri.”
Jin Kuk bangkit dari duduk. “Aku tidak akan datang.” katanya dingin. “Kalian bisa melakukannya sendiri.”
“Kenapa?” tanya Hye Mi. “Kenapa tiba-tiba? Apa karena Baek Hee?”
“Bukan.” jawab Jin Kuk. “Cepat atau lambat, aku ingin keluar dari sini.”
Jin Kuk berjalan pergi. Hye Mi mengikutinya.
“Kenapa kau tiba-tiba ingin menyerah?” tanya Hye Mi.
“Sejak awal, aku memang ingin melepaskan semuanya.” jawab Jin Kuk datar. Ia memasang headphone ke telinga, pertanda ia tidak ingin mendengar perkataan Hye Mi lagi.
Hye Mi melepas headphone itu dengan kasar. “Apa terjadi sesuatu kemarin?” tanyanya cemas. “Apa yang kau bicarakan dengan ayahmu?”
“Tidak penting.” jawab Jin Kuk. “Aku hanya mulai muak dengan semua ini.”
“Lalu bagaimana dengan janji kemarin di halte bus?” tanya Hye Mi dengan mata berkaca-kaca. “Kau mengatakan ingin bernyanyi bersamaku di panggung.”
“Apa aku pernah mengatakannya?” tanya Jin Kuk kejam. “Aku tidak ingat.” Ia memasang headphonenya lagi.
“Begitukah?’ tanya Hye Mi. “Sepertinya hanya aku yang merasa senang. Aku sungguh konyol.”
Hye Mi berbalik dan pergi meninggalkan Jin Kuk dengan marah. Baru beberapa langkah berjalan, Hye Mi kembali lagi. Ia melepas headphone dan menendang kaki Jin Kuk.
Jin Kuk berteriak kesakitan.
Hye Mi pergi.
Jin Kuk memandang kepergian Hye Mi dengan sedih.
Jason sepertinya sangat menikmati bernyanyi bersama Pil Sook.
“Ayo kita menyanyi lagu lagi.” kata Jason bersemangat.
Pil Sook melihat jam tangannya. “Maaf, aku tidak bisa.” tolaknya. “Aku punya janji penting.”
Jason kecewa. “Benarkah? Janji apa?” tanyanya.
Pil Sook ragu. “Pokoknya janji yang sangat penting.”
Jason kelihatan sangat kecewa. “Dimana? Aku akan mengantarmu kesana.”
“Jangan!” seru Pil Sook spontan.
Jason heran.
“Emm… Aku… bisa pergi kesana sendiri.” tolak Pil Sook. “Tempatnya tidak jauh.”
Sikap Pil Sook yang mencurigakan membuat Jason penasaran. “Semakin kau bersikap aneh seperti ini, aku semakin ingin mengantarmu.” katanya. “Kemana sebenarnya kau akan pergi?”
Pil Sook merapatkan kedua tangannya, memohon. “Tolong jangan tanya lagi. Kumohon.”
Ya ampun.. Cute banget sih…
“Aku mengerti.” ujar Jason. “Hati-hati.”
“Terima kasih.” kata Pil Sook, beranjak pergi.
Pil Sook mengalami dilema. Di satu sisi, ia ingin tetap bersama Jason, namun disisi yang lain ia harus memenuhi kewajibannya berlatih untuk pentas pura-pura mereka.
“Latihan lebih penting!” kata Pil Sook pada dirinya sendiri. “Tapi kesempatan ini hanya sekali seumur hidup!”
Pil Sook kebingungan. Ia bolak-balik di tangga, pusing memikirkan ingin memilih Jason atau latihan bersama teman-temannya.
Tidak lama kemudian, Jason keluar dan menemukan Pil Sook mondar-mandir di tangga sambil ngedumel sendirian. “Latihan.” ujar Pil Sook akhirnya memutuskan.
Jason tertawa dan membuntuti Pil Sook diam-diam.
Pil Sook kaget dan kesal ketika mengetahui bahwa Jin Kuk tidak jadi ikut melakukan pentas menyanyi bersama mereka.
Jin Man dan yang lainnya hampir saja menyerah. Tapi Hye Mi tetap bersikeras melakukan pentas.
“Bagian reff akan digantikan oleh Pil Sook!” seru Hye Mi. “Pil Sook juga bisa menyanyi solo saja, tidak perlu berduet.”
“Ya, aku akan menyanyi solo.” kata Pil Sook lemas.
Hye Mi malah punya ide gila dengan menyuruh Jin Man menggantikan posisi Jin Kuk. “Jika kau menggunakan seragam, kau mungkin akan kelihatan seperti murid SMA. Kau kelihatan muda.”
Jin Man, yang mulanya paling semangan menentang pentas, kini termakan rayuan Hye Mi.
“Kita tidak boleh menyerah.” kata Pil Sook. “Aku menghabiskan banyak uang untuk les gitar. Walaupun hanya pura-pura, aku ingin ibuku menonton pertunjukkanku.”
Sam Dong, Hye Mi dan Pil Sook mulai latihan menari. Jin Man mengajari mereka dengan penuh semangat. Tanpa mereka sadari, Jason datang dan mengintip latihan mereka.
Moo Jin menyerahkan segala keperluan Jin Kuk bersekolah di luar negeri. Jin Kuk hanya bisa diam dan menatap semua itu dengan sedih.
Para orang tua sangat senang menyambut pentas putra putri mereka.
Malam itu, Hye Mi dan Sam Dong sibuk memotong-motong kertas untuk pertunjukkan mereka besok.
Sam Dong masih sangat bersemangat sementara Hye Mi kelihatan lelah dan mengantuk.
“Kau tidurlah duluan.” kata Sam Dong. “Aku bisa menyelesaikan ini.”
Hye Mi menatap Sam Dong dengan mata melotot. “Tidak apa-apa.” katanya. “Aku tidak mengantuk.”
“Terima kasih.” kata Sam Dong. “Kau melakukan semua ini untukku.”
“Tidak perlu berterima kasih.” jawab Hye Mi. “Aku melakukan ini untuk membayar hutangku.”
Sam Dong sedih mendengarnya. “Dengan ini, hutangmu akan lunas. Kepalaku juga sudah sembuh total.” katanya, tidak sadar kalau mata Hye Mi sudah menutup. “Aku tahu kau mencemaskan aku. Jangan merasa bersalah. Karena itu..”
Sam Dong menoleh dan kaget melihat Hye Mi hampir jatuh ke lantai karena tertidur.
Sam Dong menarik lengan Hye Mi hingga kepala Hye Mi bersandar di bahunya.
“Apa… kau… tertidur?” tanya Sam Dong terbata-bata, salah tingkah karena begitu dekat dengan Hye Mi.
Kepala Hye Mi terpeleset dari bahu Sam Dong. Sam Dong mengangkat tangannya untuk menahan kepala Hye Mi.
Akhirnya Hye Mi malah tertidur di dada Sam Dong.
Sam Dong duduk dengan kaku, tidak berani bergerak sama sekali karena takut membangunkan Hye Mi.
Tidak lama kemudian, Jin Kuk datang dan melihat mereka.
“Ssstttt…” bisik Sam Dong, melarang Jin Kuk bersuara.
Jin Kuk tidak mengatakan apapun dan berjalan menuju kamarnya.
Oh Hyuk sedang mempelajari sebuah lagu.
“Apa kau sedang menciptakan lagu?” tanya Jin Man.
“Ini lagu ciptaan Sam Dong.” kata Oh Hyuk.
Jin Man terkejut. “Wah, dia punya bakat luar biasa.” katanya kagum, mencoba memainkan melody yang baru saja dimainkan Oh Hyuk. “Bagaimana bisa dia memikirkan nada ini?”
Oh Hyuk dan Jin Man mulai berdiskusi mengenai melodi lagu tersebut.
Hari berlangsungnya pentas Kirin asli dan Kirin palsu.
Ri Ah ribut mengenai kostum yang dipakai. “Ini tidak bagus.” protesnya.
“Itu terlihat bagus.” komen Jason.
Ri Ah kelihatan kesal. “Jason, kau harus berada bersamaku agar penonton lebih memperhatikanmu.” katanya melecehkan.
Jason hanya diam, menahan rasa kesalnya.
“Aku juga tidak suka berada satu panggung denganmu.” kata Ri Ah sinis.
“Apa katamu?” tanya Jason.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Jason berjalan pergi dengan cepat.
Di luar, Jason tidak sengaja mendengar bahwa CD lagu untuk konser terkirim ke Kirin. Guru itu berniat mengambil sheet itu di sekolah. Itu artinya, pertunjukan palsu Sam Dong dkk di auditorium sekolah terancam ketahuan.
Jason cemas. Ia tahu mengenai rencana Sam Dong dkk.
Jason akhirnya menawarkan diri pada guru itu untuk mengambil CD lagu di sekolah.
Ibu Sam Dong naik ke bus menuju Kirin untuk menonton Sam Dong. Secara kebetulan ia bertemu dengan orang tua Pil Sook.
Jason mengirimkan isi CD lagu ke email guru.
“Nona Sushi, kau harus berterima kasih padaku.” gumam Jason dari ruang guru Sekolah Kirin.
Di saat yang sama, Kyung Jin ternyata juga berada di Kirin.
Sam Dong dan Hye Mi berjalan membawa kotak berisi bunga kertas. Mendadak, Oh Hyuk datang dengan ceria dan bersemangat. Ditelinganya terkait earphone.
“Aku mencari kalian berdua.” katanya, menyerahkan earphone pada Sam Dong dan Hye Mi. “Coba dengarkan ini. Aku baru saja selesai merekamnya.”
Sam Dong terkejut mendengar lagu itu.
Hye Mi tersenyum, kelihatan sangat menyukai lagu tersebut.
“Guru… ini…” Sam Dong memandang Oh Hyuk.
“Ya, ini lagu yang kau ciptakan.” kata Oh Hyuk. “Aku dan Jin Man baru saja selesai mengerjakannya.”
Hye Mi kaget. “Kau yang menciptakan lagu ini?”
“Tidak.” jawab Sam Dong. “Aku hanya asal saja memencet keyboard. Aku tidak berpikir akan jadi seperti ini.”
“Bagaimana kalau kita menjadikan lagu ini lagu penutup konser?” saran Oh Hyuk. “Kau bisa memperdengarkan lagu ciptaanmu ini pada ibumu.”
Sam Dong senang setengah mati.
Tidak sengaja Kyung Jin lewat dan hampir melihat mereka saat itu.
Jason berjalan menuruni tangga.
Mendadak ia mendengar suara nyanyian seorang gadis. Jason terdiam.
Rupanya Pil Sook-lah yang sedang bernyanyi. Jin Man juga berada disana, berlatih menari.
Seharusnya Jin Kuk berduet dengan Pil Sook, tapi karena Jin Kuk tidak jadi ikut, Pil Sook terpaksa menyanyi solo dan Jin Man sebagai penarinya.
“Haruskah aku ikut menyanyi?” tanya Jin Man.
“Tidak usah.” tolak Pil Sook. “Biar aku saja.”
“Kenapa kau mau berduet denganku?” tanya Jin Man.
“Bukan begitu…” jawab Pil Sook cepat. “Kupikir lebih baik aku solo saja.”
“Bagaimana denganku?” terdengar suara Jason.
Jin Man langsung bersembunyi di bawah meja.
“Jason!” seru Pil Sook kaget. “Kenapa kau ada disini?”
“Itu adalah lagu yang kita nyanyikan saat karaoke, bukan?” tanya Jason dengan senyum terkembang. “Ayo bernyanyi bersama.”
“Kau tidak ikut pertunjukan sekolah?” tanya Pil Sook.
“Disana terlalu membosankan.” kata Jason. “Jadi, kita akan bernyanyi bersama?”
“Aku senang sekali.” kata Pil Sook malu-malu.
Kyung Jin mendapat laporan kalau Jason belum ada di tempat pertunjukkan dan sedang berada di sekolah untuk mengambil CD lagu.
Kyung Jin lalu mencari Jason di sekolah.
Seung Hee dan murid-murid Kirin cemas kenapa Jason tidak juga datang.
“Mungkinkah dia kabur?”
“Kenapa harus kabur?” tanya Baek Hee.
“Sejak awal dia tidak mau berduet dengan Ri Ah. Ia lebih memilih bernyanyi solo.”
“Dia pikir siapa dirinya?!” seru Ri Ah marah. “Dia pikir aku mau berduet dengannya?! Aku juga tidak mau! Lupakan saja!”
Ri Ah berjalan pergi dengan marah. Seung Hee mengejarnya.
Ibu Baek Hee menelepon dan menanyakan Baek Hee akan pentas di urutan ke berapa. Baek Hee akan pentas pada urutan ke tiga. Ia sangat terharu mengetahui ibunya akan datang.
Hye Mi berdiri seorang diri di panggung auditorium Kirin.
Kata-kata Jin Kuk terngiang di telinganya. “Jika aku melakukan debut, aku berharap kau berada di panggung itu bersamaku.”
Hye Mi mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan untuk Jin Kuk. “Akan sangat menyenangkan jika kau bisa berada di panggung ini.”
Tapi Hye Mi kembali menghapus pesan itu, mengurungkan niatnya menghubungi Jin Kuk.
Seung Hee dan para guru kebingungan karena kehilangan Jason dan Ri Ah sebagai penyanyi duet. Siapa yang bisa menggantikan mereka.
Tanpa sengaja Baek Hee mendengar perbincangan Seung Hee.
Jin Kuk datang untuk mengucapkan “Semoga sukses.” pada Baek Hee.
“Jin Kuk, tolong aku.” pinta Baek Hee. “Ibuku ada disini sekarang. Jadi aku ingin menampilkan pertunjukkan yang bagus untuknya.”
Jin Kuk menolak.
Baek Hee memohon dengan penuh harap pada Jin Kuk hingga akhirnya Jin Kuk setuju.
Kyung Jin kembali ke sekolah dan terkejut melihat acara “Kirin Palsu.” Ia bergegas mencari otak dibalik semua itu.
“Tuan Kang!” panggil Kyung Jin pada Oh Hyuk. “Hentikan semua ini segera!”
Oh Hyuk shock mengetahui keberadaan Kyung Jin disana. Ia memohon pada Kyung Jin agar Kyung Jin mau merahasiakan semua itu, namun tentu saja Kyung Jin menolak.
Menurut Kyung Jin, jika murid memang tidak punya bakat, untuk apa dipaksakan. Murid-murid itu harus sadar dan memilih jalan hidup yang lain.
“Kau memerintahkan mereka terbang padahal mereka tidak bisa terbang!” seru Kyung Jin marah. “Ketika mereka mencoba, mereka akan jatuh dan terluka. Mereka bahkan bisa mati! Kau dibutakan oleh kebanggaanmu sendiri, begitu juga orang tua dan murid-murid itu! Semuanya mustahil, kau mengerti?!”
Oh Hyuk menunduk, hanya bisa diam mendengar Kyung Jin. “Ya, kurasa kau benar.” katanya, menyerah.
Oh Hyuk rupanya hanya pura-pura menyerah. Begitu Kyung Jin lengah, ia langsung menggendong Kyung Jin dan mengurungnya di gudang.
“Maafkan aku.” ujar Oh Hyuk dari balik pintu. “Nanti kau bisa berteriak dan memukulku sesukamu. Aku mungkin memang guru yang buruk. Karena itulah aku akan berusaha mengajar mereka dengan baik.”
Oh Hyuk kemudian pergi meninggalkan Kyung Jin dan berteriak-teriak.
Penampilan Pil Sook dan Jason yang sangat memikat.
Penampilan Baek Hee dan Jin Kuk yang keren.
Baek Hee menangis karena terharu melihat ibunya datang dan memberi tepuk tangan untuknya.
Kini Jin Kuk menikmati semua gemerlap panggung. Bunga kertas warna-warni yang berjatuhan dan kilatan lensa kamera. Semua itu membuat Jin Kuk menjadi yakin apa yang ia inginkan, dimana ia ingin berada, dan dengan siapa ia ingin bersama. Jin Kuk memutuskan tidak akan menuruti permintaan ayahnya dan tetap berusaha menggapai mimpinya.
“Seseorang yang kau inginkan, bukan aku?” gumam Baek Hee, kecewa.
Ketika Jin Kuk berjalan pergi, seorang produser musik mengejarnya.
Sam Dong mengintip ke arah penonton, mencari ibunya.
Sebelum memulai pentas, Sam Dong berbincang dengan Hye Mi.
“Pasti akan sangat menyenangkan jika ayahmu juga ada disini.” kata Sam Dong.
Melihat ekspresi murung di wajah Hye Mi, Sam Dong langsung terdiam.
“Tidak.” kata Hye Mi. “Lebih baik ia tidak datang. Ia akan marah jika tahu aku melepaskan sekolah vokal. Bagaimana hubungan kita dimata ibumu?”
“Kau sangat jatuh cinta padaku.” kata Sam Dong. “Kau adalah Chun Hyang dan aku Mong Ryong.” Di drama Sassy Girl Chun Hyang.
“Baiklah, aku akan menjadi Chun Hyang-mu selama satu hari.” kata Hye Mi.
Hye Mi mengangkat tangannya, berniat melakukan high five.
Sam Dong mengira Hye Mi hendak memukulnya.
“Kau tidak tahu high five?” tanya Hye Mi. Hye Mi lalu menepukkan tangannya ke tangan Sam Dong. High five = toast.

Penampilan Sam Dong dan Hye Mi yang elegan.
“Penampilanmu lumayan.” kata Oh Hyuk. “Sebenarnya bukan lumayan, tapi sangat bagus.”
Sam Dong tertawa. “Tidak.” katanya merendah. “Aku melakukan beberapa kesalahan.”
“Bagaimana rasanya berada diatas panggung?” tanya Oh Hyuk.
“Aku menyukainya.” jawab Sam Dong. “Aku sangat menyukainya.”
Oh Hyuk beranjak pergi, tapi Sam Dong memanggil.
“Guru, apa kau ingat ketika aku mengatakan bahwa mimpi kita rumit dan sulit menjadi kenyataan?” tanya Sam Dong, “Sekarang, aku sudah bisa melihat mimpiku dengan jelas. Mimpiku kelihatan nyata dan sangat indah. Aku sangat menantikan suatu saat nanti ketika aku bisa mewujudkan mimpiku. Dan juga, proses untuk mewujudkan mimpi itu sangatlah menyenangkan.”
Oh Hyuk tersenyum. “Aku senang mendengarnya.” kata Oh Hyuk. “Sam Dong, karena konser sudah selesai…”
Sam Dong terdiam, suara Oh Hyuk terasa samar terdengar di telinganya dan kemudian suara itu sama sekali menghilang. Selama beberapa saat, Sam Dong tidak dapat mendengar apapun. Ia merasa pusing dan kehilangan keseimbangan.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Oh Hyuk, cemas melihat Sam Dong yang tiba-tiba bertumpu pada meja, menjaga agar tubuhnya tidak jatuh.
Oke, aku punya firasat buruk kalau nasib Sam Dong bakal suram.
Sam Dong menenangkan Oh Hyuk dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan hanya mendengar suara seruan dari panggung.
Kyung Jin menangis di dalam gudang. Ia kemudian memutuskan untuk mendobrak pintu.
Disaat yang sama, Jin Man membuka pintu tersebut.
Kyung Jin berlari dan menubruk Jin Man hingga terjatuh ke lantai.
“Kenapa kau baru datang sekarang?” tangis Kyung Jin. Saat itu ia menutup matanya dan tidak tahu bahwa yang ditubruk adalah Jin Man.
“Guru, kenapa kau ada disana?” tanya Jin Man.
Kyung Jin langsung berteriak histeris ketika melihat ternyata orang itu adalah Jin Man.
Kyung Jin bangkit dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Jaim gitu loh…
Oh Hyuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Kata-kata Kyung Jin terngiang di pikirannya.
Oh Hyuk menggenggam microphone erat dan berjalan perlahan ke panggung.
Oh Hyuk berterima kasih pada para orang tua murid karena bersedia hadir di acara mereka, kemudian ia meminta maaf.
“Alasanku berdiri di atas panggung ini adalah karena aku berhutang permintaan maaf.” ujar Oh Hyuk. “Semua yang kalian lihat di pentas hari ini sebenarnya adalah pentas palsu.”
Kyung Jin, yang saat itu sedang berusaha mematikan soundsystem, langsung terdiam.
“Maafkan aku.” ujar Oh Hyuk. “Semua yang ada di panggung hari ini adalah murid-murid yang gagal tampil di pentas yang sebenarnya.”
Para orang tua tentu saja terkejut mendengar pernyataan Oh Hyuk.
“Para orang tua selalu bertanya padaku, ‘Bisakah anakku menjadi seorang bintang?’.” ujar Oh Hyuk. “‘Bisakah anakku tetap berusaha di jalan ini?’, ‘Apakah anakku memiliki bakat?’, ‘Anakku tidak bisa cara terbang, apakah anakku akan jatuh dari tebing?’, ‘Apakah anakku akan terluka?’. Itulah hal-hal yang ditakutkan orang tua.”
Kyung Jin mendengar kata-kata Oh Hyuk.
“Masalah punya atau tidak punya bakat, aku tidak bisa menjawabnya.” ujar Oh Hyuk. “Tapi ada satu hal yang aku tahu pasti. Anak-anak ini ingin berteriak lebih lantang dibandingkan semua siswa yang lain. Mereka mencintai panggung lebih dari orang lain. Mereka bekerja keras demi panggung palsu ini. Mereka sangat ingin berada di panggung ini. Mimpi mereka terlalu indah. Percaya bahwa mimpi itu bisa digapai. Tapi jika kita melarang mereka terbang sebelum sempat mencoba, bukankah itu sangat kejam?”
“Aku ingin terbang bersama dengan mereka.” ujar Oh Hyuk.
Sam Dong, Jason dan yang lainnya tersenyum dan terharu mendengar perkataan Oh Hyuk.
“Aku tidak tahu seberapa tinggi mereka akan terbang, tapi aku tetap ingin mereka mencoba. Jadi, aku akan berusaha semampuku untuk membuat pentas kali ini menjadi pengalaman yang menyenangkan.”
Oh Hyuk juga meminta para orang tua mendukung mereka.
Setelah Oh Hyuk slesai berpidato, para orang tua bertepuk tangan. Mereka semua kagum pada Oh Hyuk.
Oh Hyuk kembali ke belakang panggung. Sam Dong, Jason, dan Pil Sook langsung toast/high five dengannya. Hye Mi diam dulu beberapa saat, kemudian dengan kaku mengangkat tangannya juga.
Di lain sisi, Jin Kuk menemui ayahnya dan menyatakan bahwa ia ingin tetap berada di Kirin untuk mewujudkan mimpinya sendiri. Dengan tegas, Jin Kuk menolak bersekolah di luar negeri.
Jin Kuk berjanji akan selalu mendukung ayahnya dan tidak akan membuat ayahnya malu.
Setelah selesai bicara dengan Moo Jin, Jin Kuk berjalan keluar dan mengirim sms pada Hye Mi.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.” kata Jin Kuk dalam pesannya. “Bisakah kita bertemu di ruang latihan jam 6?”
Jin Kuk keluar dari gedung dengan senyum terkembang.
Di luar, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Beberapa orang pria keluar dari mobil tersebut.
“Halo Sekretaris Kim.” sapa Jin Kuk pada salah satu pria. “Siapa orang-orang ini?”
“Naiklah ke dalam mobil dulu.” perintah Sekretaris Kim.
Jin Kuk merasa ada sesuatu. “Kemana kita akan pergi?” tanyanya.
Sekretaris Kim memerintahkan anak buahnya membawa Jin Kuk secara paksa.
Jin Kuk berusaha kabur. Ia melompati pagar kaca. Tanpa ia sadari, ponselnya terjatuh.
Usaha Jin Kuk melarikan diri gagal.
Jin Kuk diseret dan dipaksa masuk dalam mobil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar